Gn Semeru – 3676 mdpl

Perjalanan alam kali ini di dasari beberapa faktor, diantaranya pengaruh film 5 cm, rasa iri sama adek kandung (cewek) yang udah sampe puncak dan yang terakhir karena faktor “gak mudik” karena perjalanan ini bertepatan dengan H+3 lebaran 1434 H.

Deskripsi sedikit tentang Gn Semeru, salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Puncak Gn Semeru juga merupakan dataran tertinggi di P. Jawa yaitu pada ketinggian 3676 mdpl. Gn Semeru berada di kawasan 4 kabupaten, yaitu Kab Pasuruan, Kab Malang, Kab Lumajang dan Kab Probolinggo. Jalur pendakian Gn Semeru paling favorit yaitu melalui jalur Ranupane.

Lanjut ke cerita, 8 Agustus 2013. Hari nan fitri itu tiba. Seperti tradisi di tahun2 sebelumnya sungkem dan makan2 dengan keluarga di pagi hari setelah shalat ied adalah tradisi yang tidak bisa di tinggalkan. Kegiatan agak berubah di sore hari dan malam nya. Kegiatan di ganti  dengan mempersiapkan perbekalan dan peralatan yang di perlukan untuk pendakian Semeru kali ini. Anggota perjalanan ini ada 7 orang , yaitu 5 orang cowok dan 2 cewek. Peralatan yang sudah terkumpul 2 Tenda , 5 sleeping bag, 2 nesting, 3 tas carrier, 2 kompor portabel , gas , parafin serta spirtus, 1 jerigen 5 liter, 3 buah headlamp dan senter. Berlanjut ke logistik, ada spaghetti La ***** , saus spaghetti , beras, minyak , roti, susu, kopi susu, coklat sachet, keju dan masih ada yang lain.

IMG-20130809-00188

9 Agustus 2013. Persiapan di isi dengan pemantapan dan finishing. Fotocopy KTP, surat dokter dan sedikit briefing ke temen2 peserta pendakian periode ini.  Malam hari nya, semua peralatan dan perbekalan di kumpulkan dan di packing sebagaimana mestinya. Karena kita berencana berangkat pagi hari di tanggal 10 Agustus .

10 Agustus 2013. Rencana awal kita akan summit Gn Semeru ini hanya dalam waktu 2 hari. Maka dari itu kita men”schedule” kan untuk berangkat pagi2 sekali yaitu setelah subuh.  Jam menunjukkan pukul 4 pagi ketika alarm ku berbunyi , setelah cuci muka, sikat gigi, wudhu dan shalat subuh kegiatan selanjutnya adalah jemput salah satu temen cewek yang ikut dalam “adventure” kali ini.  Jarak Tanggulangin – Buduran sekitar 10-12 km, pada jam subuh itu udara lagi dingin2 nya. Motor di geber 80 km perjam, hawa dingin menyerang sampe ke tulang2 rasanya, anggep aja cara adaptasi untuk mengenal cuaca nanti pada saat di semeru.  Tak lama, sampailah di rumah temen ku tadi. Sungkem ke ortu nya (karena masih dalam suasana lebaran), kemudian kami langsung berpamitan. Jam menunjukkan ± pukul 6 pagi , ketika aku kembali ke rumahku, masih ada beberapa hal yang belum beres dan harus di siapkan. Jam 6.45 semua anggota sudah terkumpul dan semua peralatan sudah dalam keadaan “ready”. Kami berangkat dari rumah dengan menggunakan 4 sepeda motor, tak lupa kami mengabadikan momen sebelum berangkat.

DSC_0007

OK, jam 7 tepat kami berangkat dari Tanggulangin Sidoarjo menuju Ranupane Malang melalui jalur Tosari-Pasuruan. Perjalanan berlangsung aman dan lancar ± selama 2 jam menempuh jalur Tosari Pasuruan yang berkelok kelok dan hawanya cukup sejuk. Sekitar jam 9 , sedikit trouble terjadi. Motor yang saya gunakan tiba2 mendadak tidak mau di gas, kata seorang temen “Jarno ae, paling mesin e panas iku …….”. Saya yang kurang mengerti tentang dunia otomotif mengiyakan perkataan salah satu teman tadi, dan kami memberhentikan motor tersebut untuk mendinginkan mesin motor. Sekitar 30 menit, mesin motor di rasa sudah dingin saya mencoba menghidupkan nya lagi, tapi mesin tidak mau menyala. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk kembali turun dan mencari bengkel yang bisa “mengobati” penyakit motor ku ini. Kurang lebih 8 km motor menempuh jalan turunan untuk menemukan bengkel yang bisa men service motor ini. Usut punya usut ternyata sumber permasalahan terjadi pada “busi” motor. Di saat yang bersamaan, motor salah satu temen juga ada yang ban nya bocor. Setelah semua di rasa beres, kami melanjutkan perjalanan yang di rasa sudah melenceng jauh dari estimasi waktu yang telah kita susun sebelumnya, target 2 hari summit ke Semeru pun terasa mustahil untuk dilakukan.  Jam 11.30 kami tiba di gerbang perijinan Tosari menuju kawasan Bromo, kami langsung bergegas membeli tiket masuk seharga Rp 10 ribu per orang dan Rp 3 ribu per motor jadi total biaya nya Rp 82 ribu. Jalur perjalanan ini di pilih karena kita ingin dapet semuanya, mengunjungi gagahnya Gn Semeru melalui eksotis nya pesona Bromo dengan lautan pasir serta bukit teletubies nya. Motor yang sedikit tidak fit di bikin meronta-ronta ketika melewati lautan pasir Bromo, ban selip dan terjatuh dari motor dijadikan hiburan tersendiri oleh kami, karena kami menikmati perjalanan ini. Motor ku pun kembali mengalami trouble, “gak kuat nanjak”. Kami menyusuri lautan pasir Bromo dengan sangat bersusah payah dan sangat menguras energi.

view-on-the-bromo-from

2 jam kemudian kita sampai di Pos pertigaan arah ranupane-Tumpang dan Bromo. Seporsi bakso kita lahap habis karenan memang perut kami masih kososng sedari pagi, bahkan ada seorang temen cewek ku yang sampai habis 2 porsi bakso, amazing. Setelah beristirahat dan mengumpulkan enrgi yang sempat terkuras, kami sampai di desa Ranupane sekitar jam 2 siang.  Memarkir sepeda motor, toilet serta shalat dzuhur adalah kegiatan kami di desa tersebut. Jam menunjukkan pukul 3 tepat ketika kita sampai di pos perijinan Ranupane, di sini kita mendaftarkan diri untuk melakukan aktivitas pendakian menuju Semeru.

DSC_0049

DSC_0045

Mendaftarkan kelompok kami, me-list barang2 bawaan,mengisi buku hadir,serta mendaftarkan asuransi adalah kegiatan di pos perijinan. Setelah semua beres, kita memulai perjalanan “amazing” ini dengan briefing serta berdo’a demi keselamatan dan kelancaran kegiatan ini. Bismillah, “dari sini semua di mulai dengan melangkah”, monolog karakter Genta pada film 5 cm. Jam menunjukkan pukul 15.46 ketika kita sampai di “Gerbang Selamat Datang”.

DSC_0055

Spot foto favorit bagi mereka2 yang akan mendaki ke Semeru, gerbang selamat datang. Karena rencana awal sudah meleset, yang awal nya kita berencana nge-camp di daerah kalimati rencana di persempit dengan nge-camp di Ranukumbolo. Jam menunjukkan pukul 3 sore, kalau tidak ada aral merintang perjalanan Ranupane-Ranukumbolo bisa di tempuh dalam waktu 4 jam. Jarak yang harus di tempuh untuk sampai ke Ranukumbolo ± 10.5 km dengan rincian sebagai berikut , Ranupane – Landengan dowo (3 km) – Watu rejeng (3 km) – Ranukumbolo (4.5 km). Semangat, ya itu kunci yang membuat perjalanan kita terasa mudah dan menyenangkan. Jalur pendakian yang cukup bersahabat turut memudahkan langkah kita, jalanan tanah dan kadang ber-paving itu yang membuat langkah kaki kita terasa mudah dan tak merasa capek. Sejam berlalu, kita sampai di titik Landengan dowo. Jam menunjukkan pukul 16.40 ketika kita sampai Landengan Dowo, disini kita istirahat cuma sebentar sekitar 8-10 menit dan melanjutkan trip menuju Ranukumbolo. Karena kita menyadari akan sampai di Ranukumbolo pada saat matahari sudah tak menampakkan sinar nya.

DSC_0059

Kami sangat2 menikmati perjalanan ini, tawa dan canda menghiasi perjalanan kami. Tak pernah rombongan ini memakai mode silent selama perjalanan, hal ini yang membuat kita terus semangat dan enjoy. Pos selanjutnya, Watu Rejeng sinar matahari sudah mulai pelit hampir gelap ketika kita sampai sini. Perjalanan pun di lanjut menuju camp ground kita malam ini “Ranukumbolo”. Bener2 penasaran dengan eksotis nya Ranukumbolo, langkah pun di percepat karena pengen ngeliat penampakan Ranukumbolo sebelum sinar matahari benar2 menghilang. Dan akhirnya, kita sampai di atas bukit yang bawah nya terdapat danau yang indah itu . Karena kita sampai sekitar jam 7 malam, view yang amazing itu terpaksa harus di pending saat matahari muncul esok hari. Tapi ke-eksotisan itu tetap terasa, dingin,tenang dan damai nya Ranukumbolo di malam hari bisa kami rasakan. Tenda2 yang sudah berdiri di bibir danau mempercantik Ranukumbolo malam ini, mereka seakan menjadi payet penghias kain yang sempurna. Ini lah penampakan Ranukumbolo ketika kita sampai di atas bukit.

DSC_0060

Gak kelihatan kan Ranukumbolo nya😀

Lelah, eh bukan cuma perlu istirahat aja. Akhirnya kita segera mendirikan tenda, menyiapkan tempat tidur dan tak lupa kita membuat sesuatu yang berguna untuk menghangatkan tubuh kita (coklat panas + kopi susu) sangat2 nikmat ketika menikmatinya di pinggir danau Ranaukumbolo. Malam itu ketika kita sampai , suhu yang bisa terekam sekitar 11 derajat celcius. Suhu yang cukup “menyiksa” untuk kita2 yang hidup di perkotaan dengan suhu di atas 30 derajat celcius. Tak lama setelah menikmati kopi dan coklat kami segera bergegas beristirahat, sleeping bag kita jadikan harapan untuk bisa sedikit membantu dari “jahat” nya suhu di Ranukumbolo. Tidur, itu kegiatan yang kami lakukan di dalam tenda tapi kenyataan nya mata kita terpejam tapi badan kita vibrasi,tremor. Bagaimana tidak, suhu yang bisa terekam pada jam 2 pagi yaitu sekitar 5 derajat celcius. Dan itu sangat2 very2 dingin sodara2 bbrrrrrr . Kami tak sabar menunggu sang mentari menampakkan sinarnya. Karena kata2 Subhanallah, amazing, kereeeennn , woooowww akan mudah terucap ketika Ranukumbolo berpadu dengan sinar matahari. Pukul 5 pagi, saat itu mata ku sudah ku terbuka ku coba melepaskan diri dari sleeping bag yang membunteli tubuh ini. Ku coba untuk membuka resleting tenda dan melihat danau, Subhanallah, tak pernah ku bangun tidur melihat view yang begitu amazing seperti ini. Bergegas aku keluar dari tenda dan mengeluarkan kamera, meskipun udara pagi itu sangat2 dingin tapi aku tak ingin melewatkan momen spesial ini sembari menunggu matahari muncul dari peraduan nya aku mencoba mengabadikan momen pagi indah ini di Ranukumbolo. Berikut penampakan Ranukumbolo di waktu fajar.

DSC_0071

DSC_0068

DSC_0064

11 Agustus 2013. Pagi itu ketakjuban akan ciptaan Allah SWT memenuhi otak ini. Tak henti ku mengagumi lukisan alam yang indah ini. Saat matahari mulai menampakkan sinar nya, Subhanallah pemandangan nya semakin amazing. Air danau yang terlihat biru, tanjakan cinta, pohon2 yang hijau, rerumputan yang membeku karena suhu hampir 0 derajat, serta biru nya langit pagi di Ranukumbolo yang menyempurnakan semuanya. Dalam hati aku berkeingingan, suatu saat aku pasti kembali lagi ke “surga” nya gunung Semeru ini, mengajak istri dan anak ku kelak pasti sebuah momen yang sangat indah (udah2 ngimpi nya jangan di bahas disini). Serentak danau bak seorang artis, banyak kamera yang membidik nya, ingin foto dengan nya, semua orang membicarakan nya, semua orang mengenang nya, semua orang ingin bisa meraihnya. Setiap kamera di bidikan, maka hasil nya akan bagus memang karena background atau latar nya yang sangat membantu sehingga gambar hasil jepretan akan terlihat indah. Puas foto2, perut kami pun terasa lapar, segera kita menyiapkan kompor dan segala sesuatu yang untuk di konsumsi pagi ini. Pagi ini kita akan memasak Spaghetti saus bolognaise, susu coklat serta kopi panas. Sarapan pagi itu terasa nikmat sekali, menikmati santapan pagi dengan view Ranukumbolo yang mempesona. Tapi ada beberapa larangan yang harus di patuhi oleh para pendaki di kawasan Ranukumbolo, diantaranya : dilarang beraktivitas yang dapat mencemari danau misalnya mencuci piring, menggosok gigi, serta mandi atau berenang di danau. Tetapi untuk memancing diperbolehkan disana, tapi kelihatannya ikan nya gak begitu banyak deh disini sampai sempet terpikirkan suatu saat kalau ke sini lagi tuh sambil bawa bibit lele ato mujaer yang buanyak biar nanti bisa berkembang biak disini terus jadi banyak ikan nya deh. OK, setelah di rasa cukup puas kami menikmati Ranukumbolo pagi ini kami berkemas dan mempersiapkan diri untuk menuju destinasi selanjutnya “Kalimati”. Beberapa galeri foto yang kita ambil selama di Ranukumbolo :

DSC_0098

Ranukumbolo 2400 mdpl

DSC_0160

DSC_0144

Background Ranukumbolo

DSC_0125

DSC_0114

DSC_0109

DSC_0100

Camp Pendaki di Ranukumbolo

DSC_0079

Narsis dulu sob😀

DSC_0078

Amazing Ranaukumbolo

1184971_10200449208497585_835525706_n

Embun yang membeku di rerumputan

946372_10200449101654914_1957981439_n

Spaghetti paling nikmat sedunia

Tepat jam 09.45 kami mulai meninggalkan pinggiran danau ini dan menapaki “Tanjakan Cinta”. Mitos tentang tanjakan cinta benar2 menempel di otak ku. Saat menaiki tanjakan ini aku selalu memikirkan satu nama yaitu “Puncak Mahameru”. Alhasil, memang puncak Mahameru bisa kugapai meskipun tidak ada dokumentasi nya. Lanjut ke tanjakan Cinta, tanjakan yang lumayan ini memiliki kemiringan sekitar 60 derajat jadi agak capek ketika kita mencoba untuk menaiki tanjakan ini. Sesampai nya di atas bukit ini kita seolah2 di suguhi 2 pemandangan yang berbeda tetapi sama2 menakjubkan nya. Di belakang kita merupakan view Ranukumbolo dari ketinggian sedangkan di depan kita merupakan view oro-oro ombo dengan padang edelweis nya serta ber latang belakang puncak Mahameru yang mengeluarkan asap putih, kalau di gn Merapi dinamakan wedhus gembel. Semangat, ya kata2 itu lagi yang selalu tertanam di otak ini agar bisa mencapai tujuan selanjutnya yakni “Cemoro Kandang”. Jarak antara Ranukumbolo – Cemoro Kandang sekitar 3 km, dan kami menempuh nya kurang dari satu jam itupun termasuk dengan narsis2 di jalan.

DSC_0173

Oro Oro Ombo dengan Backgroun Puncak Mahameru

DSC_0182

Edelweis Semeru

DSC_0190

Cemoro Kandang

Sampai di cemoro kandang kita berhenti sejenak, mengumpulkan tenaga untuk menempuh jarak 3 km lagi menuju Jambangan. Karena pada sesi ini 3 km jalur nya semua menanjak jadi perlu energi dan semangat yang ekstra apalagi terik matahari di siang hari lumayan membuat stamina cepet habis. 10.20 kita mulai start jalan menempuh 3 km jalan yang menanjak menuju Jambangan, pada sesi sebelumnya kita cukup mudah menempuh jarak 3 km, tapi pada bagian ini kita sering istirahat di tengah jalan,minum bahkan sampai membuka perbekalan untuk di konsumsi di jalan misal coklat , biskuit dan roti. Tapi perjalanan ini sungguh tak terasa menyiksa karena lagi2 kita menjalani nya dengan sangat enjoy dan menikmati semuanya. Meskipun panas, jauh , berdebu bahkan sesekali luka ringan kita tetap menikmati perjalanan ini. Tepat setengah 1 saya nyampe di Jambangan, lho kok cuma saya ..?? iya soalnya yang lain udah nyampe duluan dan melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Maklum lah, bawa tas carrier lumayan berat jadi jalan nya slow but sure pokok e tekan🙂. Di Jambangan ini puncak gunung Semeru kelihatan sangat dekat seolah2 dia bersuara, “ayoo cepet kamu udah dekat tinggal sedikit lagi tetep semangat keep smile”. Dalam hati, pasti besok pagi aku bisa berdiri disana, di dataran tertinggi P Jawa , Puncak Mahameru 3676 mdpl. Tetep narsis merupakan kegiatan yang tak boleh untuk ditinggalkan, karena disini view Puncak Semeru kelihatan jelas dan gagah banget.

DSC_0202

background Puncak Mahameru

DSC_0201

Jambangan 2600 mdpl

DSC_0209

Sudah dekat …. sudah dekat … sudah dekat. Ya kata2 itu yang ku tanamakan di otak ku. Perjalanan pun berlanjut menuju Kalimati. Seperti bonus ketika kita menuju ke Kalimati,kenapa? Karena jalanan yang tadi menanjak terus di gantikan dengan jalanan yang landai dan sering kali ada jalan turunan. Sungguh2 perjalanan yang nyaman. Di kalimati ini kita sudah mulai merasakan kalau vegetasi menjelang puncak semeru ini lumayan tandus, sudah jarang pepohonan dan cuaca kalau siang hari sanat terik. Jambangan – Kalimati kita tempuh kurang dari satu jam. Sesampainya di Kalimati agenda kita yaitu langsung mendirikan tenda (lagi) dan memasak karena perut sudah lumayan meronta ronta. Menu makan siang kali ini cukup spesial yaitu, sarden,sayur sop, dan telor dadar. Acara memasak di hutan itu cukup menyenangkan, seperti acara di TV Harmoni Alam hehehehe. Setelah semua selesai makan kita bagi tugas, ada yang mencuci peralatan masak dan makan, ambil air dan membereskan tenda. Sumbermani, ya itu tempat dimana kita bisa mengambil air dan mencuci piring saat di Kalimati ini. Jarak nya sekitar 20 menit dari Kalimati menyusuri bekas aliran lahar vulkanik gunung semeru. Sesampai di Sumbermani, kita langsung mengisi perbekalan air dan mencuci piring. Sumber mata air disini berasal dari tebing2 yang ada di atas dan meneteskan sumber mata air ke bawah, jadi air yang bisa di gunakan tidak begitu deras. Kami ambil air berlima sedangkan yang bertugas di tnda ada 2 orang. Setelah selesai, kita kembali ke tenda. Rencana selanjutnya yaitu “bobo siang”, biar kita bisa menikamti tidur yang nyaman di Semeru ini karena kalau malam hari kami gak bisa tidur nyenyak karena suhu yang terlalu dingin apalagi ini musim kemarau, selain dingin angin yang berhembus cukup kencang di musim kemarau ini. Dan kita harus segera memejamkan mata dan beristirahat karena nanti malam jam 11 an kita harus sudah terbangun dan mulai mempersiapkan diri untuk summit menuju puncak Mahameru .

DSC_0228

DSC_0231

DSC_0232

Ini salah satu hal yang harus di sesali ketika mengunjungi Gn Semeru kemarin, gambar2 di atas adalah momen2 terakhir yang bisa ke jepret pake kamera ku dikarenakan kehabisan battery.

Jam menunjukkan pukul 22.18 menit ketika salah seorang teman dari tenda sebelah membangunkan kami. Kita harus bersiap-siap, tapi lagi2 hawa dingin sempat memalaskan kita. Pengen nya tetep stay di tenda dan di dalam sleeping bag, meskipun suhunya gak se ekstrim saat di Ranukumbolo tetapi tetap saja suhu nya lumayan dingin, yakni sekitar 7 derajat celcius. Demi tercapainya cita2 untuk muncak kami mau gak mau harus bangun dan mempersiapkan diri. Masak air dan bikin kopi serta susu menjadi kegiatan yang dilakukan malam itu untuk menetralisir suhu tubuh kita. Setelah itu kami mempersiapkan diri seperti mengganti kostum untuk keperluan summit, sepatu, masker, training serta jaket adalah tool kit yang wajib di gunakan. 6 dari 7 peserta yang malam itu berangkat muncak, salah seorang teman tidak ikut muncak karena alasan nya udah gak punya persediaan rokok😀 , jadi seperti tidak ada lagi stok semangat untuknya. Angin malam itu berhembus cukup kencang, tapi aku gak bisa mengukur berapa kecepatan angin yang berhembus saat itu dikarenakan aku gak bisa membaca kecepatan angin😀. Seperti biasa, sebelum berangkat kita briefing sejenak, berdoa untuk keselamatan tim ini karena kita tahu kita tidak sedang rekreasi, banyak marabahaya yang sewaktu waktu bisa mencelakai kita. Hanya kedisiplinan dan kepatuhan yang bisa menyelamatkan diri kita. Perjalanan di rasa cukup berat karena kita harus melawan dingin dan menerjang angin yang berhembus malam itu, sekitar 20 menit kita berjalan kita mulai menempuh jalan tanjakan menuju Arcopodo. Disini jalan nya cukup miring sekitar 30-40 derajat, sepanjang perjalanan di Arcopodo kita menemui beberapa prasasti makam teman2 pendaki yang meninggal saat menuju puncak Mahameru. Setiap bertemu prasasti tersebut, saya sempatkan untuk membacakan Al-Fath buat teman yang meninggal di sini. Sekitar sejam perjalanan kita sampai di Arcopodo, tempat terakhir yang bisa di dirikan tenda untuk camp. Setelah Arcopodo, tanah nya sudah tidak rata, berpasir dan memiliki kemiringan yang ekstrim. Cemoro Tunggal, tulisan di papan  terakhir yang bisa di temui brarti istilahnya kita sudah ada di leher Puncak Mahameru, sudah tidak ada vegetasi sama sekali disini yang ada hanya pasir dan bebatuan yang menjulang tinggi kurang lebih 800 meter dan mempunyai panjang sekitar 1.2  km. Jam menunujukkan pukul 01.00 pada tanggal 12 Agustus 2013. Ini adalah medan terberat saat kita mengunjungi gn Semeru. Disini sungguh tekat yang lebih tebal dari biasanya harus benar2 tertanam di hati, karena medan yang sangat berat harus bisa di lalui. Setiap melangkah kita akan merosot, 3 langkah merosot nya satu langkah sering juga kita menggunakan kedua tangan kita untuk memudhakan kita dalam melangkah. sudah 2 jam berlalu, kita masih di ketinggian 3100 mdpl , brarti kurang lebih 500 meter lagi untuk mencapai puncak Mahameru. Di separuh perjalanan ini yang ada di hati dan otak juga separuh-separuh. Yaitu separuh semangat dan separuhnya lagi putus asa. Tapi kelihatan nya prosentase nya 51% berbanding 49% , jadi semangat nya tetep lebih unggul meskipun sedikit. Jam 4 pagi, tenaga benar2 habis, dingin nya menjelang puncak cukup membuat kita lemah, debu yang sangat pekat masuk ke hidung dan mulut sehingga membuat sulit bernapas. Tapi ya memang ini yang perlu di lalui kalau mau sampai ke puncak, sekitar jam 5 pagi matahari perlahan mulai menampakkan sinar nya, lagi2 momen ini tak bisa ku abadikan karena permasalahan kamera. Jam 05.30 langit sudah mulai cerah, tapi dingin nya tetap menusuk tulang mungkin waktu itu suhu udara sekitar 4-5 derajat celcius.  Jam 5.45 akhirnya aku sampai di puncak selisih sekitar 5 menit lebih lambat dari temenku Teguh Andriyanto yang sampai puncak duluan. Subhanallah, amazing sunrise di puncak semeru ini. Gugusan gunung Arjuno di sebelah barat bisa terlihat dengan jelas, view Bromo, Cemoro Kandang serta Kalimati bisa terlihat ari sini. Di sebelah timur kita bisa melihat kota Probolinggo dan Lumajang. Apalagi saat kawah di sebelah puncak Mahameru mengeluarkan asapnya sungguh momen yang tidak bisa terlupakan. Saya dan teman tidak bisa mengabadikan momen yang spesial ini. Akhirnya kita memutuskan untuk turun setelah ± 15 menit kita berada di puncak Mahameru. Kita tidak kuat dengan angin dan dingin nya di atas puncak. Sekitar 3 menit di perjalanan turun kita berjumpa dengan rombongan tim ini yang lain, mereka menawarkan kembali ke atas untuk bisa berfoto di atas. Karena sudah kedinginan saat itu saya dan teman memutuskan untuk tetap turun , tetapi keputusan ini yang akhirnya cukup saya sesali ketika saya sudah sampai di bawah apalagi sudah sampai rumah.
ini gambar beberapa temen yang bisa mengabadikan momen ketika berada di Puncak Mahameru.

1000258_4660630532083_962471743_n

Puncak Mahameru 3676 mdpl

996588_10200443853963725_1578376167_n

Puncak Mahameru

IMG-20130812-01543

Merah Putih Berkibar di Puncak Mahameru

Jam 6.15 aku dan teman mulai menuruni Puncak Mahameru menuju Arcopodo dan Kalimati, waktu yang kita tempuh kurang lebih 7 jam pada malam hari nya cuma kita tempuh kurang dari sejam saat turun (pulang). Tepat jam 7 pagi kami sudah sampai di tenda di camp Kalimati. Langsung kulemparkan badan ini menuju dalam tenda untuk tidur, sungguh rasa capek dan kemeng terasa di seluruh tubuh. Sampai2 teman yang tidak ikut muncak dengan baik hati memijat kaki ku dan memberikan balsem supaya agak enteng an.  Jam 8 2 orang temen yang lain sampai di tenda, sedangkan teman yang 2 lagi sampai sekitar jam 9 an. Jam 10.15 kita mulai berkemas dan meninggalkan Kalimati untuk kembali ke Ranupane. Kami mempersingkat waktu dengan tidak beristirahat lama selama perjalanan balik, kita hanya beristirahat sebentar sekedar untuk meluruskan kaki dan minum. Matahari sudah tak bersinar dan hawa sudah dingin ketika kita sampai di pos perijinan Ranupane, sekitar jam setengah 7 malam. Kita kembali mengurus surat kembali dan mempersiapkan tenaga untuk menempuh perjalanan menuju Sidoarjo tercinta. Kita sempet makan malam dulu di warung2 yang ada di sekitar pos perijinan Ranupane. Sesudah makan dan di rasa kuat untuk menempuh perjalanan menggunakan motor kita mulai start untuk pulang lewat jalur Tumpang – Malang. Sekitar 2 jam perjalanan kita sudah sampai daerah Lawang Malang, dan memutuskan untuk berhenti sejenak untuk makan (lagi). Seporsi bebek goreng dengan nasi double berhasil saya santap malam itu. Maklum efek dari hutan beberapa hari. Kami langusng melanjutkan perjalanan pulang, kurang lebih jam 11 malam ketika aku memarkirkan motor di depan rumah ku . Alhamdulillah, kata yang bisa terucap dari mulut ini ketika sampai kembali di rumah dalam keadaan selamat dan sehat. Sungguh perjalanan yang tak bisa dilupakan, dan saya pribadi berjanji pada diri sendiri suatu saat akan kembali lagi entah sekedar menikmati pesona Ranukumbolo atau memuaskan diri dengan mengabadikan momen saat di puncak. Perjalanan Semeru bukan perjalanan alam, tapi perjalanan hati. Terima kasih Tuhan , terima kasih Kawan. Sampai jumpa lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s